Mengubah Pola Pikir Mahasiswa tentang Dunia Usaha

Share

Apakah sekolah menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi dunia yang riil? “Belajarlah yang giat dan raihlah angka yang baik, dan kamu akan mendapat pekerjaan yang berupah tinggi dengan tunjangan dan keuntungan yang besar,“ begitu kata kebanyakan orang tua sekarang. Dunia Pendidikan kita khususnya di Indonesia tidak pernah mengajarkan dan mengarahkan kita menjadi seorang pengusaha. Itu bisa kita lihat bahwa pendidikan yang kita lalui dari masa SD, SMP, SMA, sampai lulus kuliah telah mengarahkan kita menjadi seorang pekerja. Baik jadi pekerja/buruh pabrik, karyawan di perusahaan swasta maupun BUMN, pegawai negeri, dan lain sejenisnya.

Di sekolah, mengajarkan kita mencari uang, bukan bagaimana uang itu bekerja, sekolah kita tidak mengajarkan apa yang diketahui orang kaya. Bahkan di sekolah kita diajarkan menjadi pekerja yang baik bukan Bos yang baik.

Ini bisa terjadi karena beberapa faktor, antara lain pada masa penjajahan Jepang maupun Belanda. Bangsa kita terbagi menjadi tiga golongan besar yaitu satu; golongan Eropa atau para bangsawan yaitu yang memegang pemerintahan, dua; golongan Timur Asing seperti Arab, Cina yang menguasai perdagangan, dan tiga; golongan pribumi yaitu rakyat Indonesia yang hanya menjadi buruh pabrik atau menjadi petani.

Setelah Indonesia merdeka tahun 1945. Sebagian golongan pribumi naik menjadi para bangsawan yang telah memegang kekuasaan di pemerintahan. Dari sinilah mulai berakarnya metode Pendidikan yang menciptakan orang untuk menjadi seorang pekerja atau karyawan. Karena pada saat itu golongan pribumi masih sulit untuk memasuki perdagangan yang telah sekian lama dikuasai oleh orang Cina maupun Arab. Sehingga para pejabat pada masa itu hingga sekarang masih menerapkan metode Pendidikan yang menciptakan seorang menjadi pekerja maupun karyawan untuk bekerja di pabrik-pabrik, perusahaan swasta dan menjadi pegawai negeri.

Ini terbukti dengan hasil polling kepada kebanyakan mahasiswa yang telah atau akan di wisuda. Hampir 90% apabila mereka ditanya ke manakah mereka setelah diwisuda? Mereka menjawab akan mencari pekerjaan atau intinya mereka ingin menjadi pekerja, buruh, karyawan, maupun pegawai. Sungguh ironis kalau kita mendengar semua itu, hanya 10% mahasiswa saja yang ingin menciptakan lapangan pekerjaan atau menjadi pengusaha. Padahal, salah satu cara untuk memajukan bangsa Indonesia ini adalah dengan berwirausaha.

Bayangkan mulai dari SD sampai lulus kuliah berapa jam dan berapa banyak materi yang kita dapat tentang dunia usaha atau bisnis? Sangat kecil sekali porsinya dibandingkan dengan pelajaran yang lain. Apabila kita jarang atau hampir tidak pernah mendengar dan mengetahui cara berwirausaha dan trik-trik ataupun cara sukses untuk berwirausaha, bagaimana kita mau dan ingin untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

Padahal, sudah jelas bahwa sepuluh besar orang terkaya di dunia bahkan sampai berpuluh-puluh di bawahnya tidak ada yang  berprofesi sebagai pegawai, pejabat bahkan presiden, maupun perdana menteri, melainkan orang yang sukses dan terkaya di dunia adalah mereka yang berprofesi menjadi pengusaha. Sabda Rasul “90% kekayaan di dunia ada di Perdagangan atau ada 10 pintu rezeki di dunia dan dari 10 pintu itu 9 pintu rezeki ada di perdagangan”. Menurut Robert T Kiyosaki, bahwa ada 90% orang yang memperebutkan uang 10% dan hanya ada 10% orang yang menguasai uang 90%. Dan sudah sangat jelas bahwa 10% orang tersebut adalah pengusaha. Apakah anda masih mau memilih untuk menjadi pekerja, karyawan, maupun pegawai, pilihan di tangan anda sekarang untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Kita sebagai umat islam telah memiliki suri teladan yang layak untuk ditiru dan sanggup membawa setiap manusia lebih maju dan bermartabat. Dunia usaha juga kini memerlukan contoh entrepreneur (pembisnis) yang bisa sukses tanpa harus bertumpu pada modal dan uang tetapi bisa bertumpu pada kompetensi dan kepercayaan. Suri tauladan itu sesungguhnya terdapat pada diri Muhammad SAW.

Muhammad SAW lebih dikenal sebagai seorang rasul, pemimpin masyarakat atau negara, dan pemimpin militer. Padahal, sebagian besar kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT adalah sebagai seorang pengusaha. Muhammad SAW telah memulai merintis karier dagangnya ketika berusia 12 tahun dan memulai usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang beliau menerima wahyu (beliau berusia sekitar 37 tahun). Dengan demikian, Muhammad SAW telah berprofesi sebagai pedagang selama ± 25 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan beliau yang berlangsung selama ± 23 tahun.

Memperoleh Pendidikan yang baik dan meraih ranking yang baik tidak lagi menjamin kesuksesan, dan tak seorang pun tampak memperhatikan hal itu, kecuali anak-anak kita. Banyak orang yang sangat kaya tidak memperoleh kekayaan mereka karena Pendidikan mereka. Lihatlah Bill Gates, yang dropped out dari Harvard University, telah mendirikan Microsoft; sekarang ia merupakan orang terkaya di Amerika.

Kurangnya Pendidikan financial yang diterima anak-anak kita di sekolah, membuat mereka tidak melek financial dan pengetahuan tentang bagaimana cara uang bekerja, mereka tidak disiapkan untuk menghadapi dunia yang sedang menantikan mereka, sebuah dunia di mana pengeluaran lebih ditekankan daripada penabungan.

Dunia telah berubah, tetapi  pendidikan tidak berubah dengan dunia itu. Menurut Robert T Kiyosaki, anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam sebuah sistem Pendidikan yang kuno, mempelajari masalah-masalah yang tidak akan pernah mereka gunakan, dan mereka hadapi dalam dunia nyata yang akan mereka masuki.

Salah satu alasan yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, dan kelas menengah terjerat utang adalah karena masalah uang diajarkan di rumah, dan tidak di sekolah. Kita kebanyakan belajar soal uang dari orang tua kita. Artinya, apa yang dapat diajarkan oleh orang tua yang miskin kepada anak-anak mereka mengenai uang? Mereka hanya mengatakan, “teruslah sekolah dan belajarlah yang giat.” Si anak mungkin lulus dengan peringkat yang mengagumkan tetapi dengan sikap mental dan program finansial orang miskin, Mereka tetap akan sulit untuk lepas dari kemiskinan mereka.

Uang tidak diajarkan di sekolah. Sekolah berfokus pada keterampilan di bidang pelajaran dan keterampilan profesional, bukan pada keterampilan finansial. Ini menjelaskan bagaimana banker, dokter, dan akuntan yang pandai dan memperoleh ranking yang tinggi di sekolah masih harus berjuang secara finansial sepanjang hidup mereka.

Membaca kondisi di atas, maka para mahasiswa harus bisa mencari cara alternatif lain untuk dapat mengembangkan jiwa wirausaha, karena sistem pendidikan kita belum mengajarkan semua itu. Alternatif tersebut antara lain: Pertama, membaca buku-buku motivasi, pengembangan diri, wirausaha, misalnya; buku Robert T Kiyosaki (Rich Dad Poor Dad), buku Ari Gynanjar (ESQ Power), buku AA’ Gym (Aku Bisa),  buku  Dale Carnegie (bagaimana mencari kawan dan mempengaruhi orang lain), Norman Vincent Peale (berpikir positif), Art Mortell (berani menghadapi kegagalan), dan lain sejenisnya; Kedua, menonton acara televisi tentang bisnis atau motivasi,  contoh; acara Kic Andy,  Mario Teguh Gold Wes, niscaya pintu menjadi pengusaha semakin terbuka lebar; Kedua, mengikuti seminar/pelatihan wirausaha; Ketiga, sering berkomunikasi atau berkumpul dengan para usahawan; Keempat, mengikuti acara pengajian, dan lain sebagainya.

Jadi, banyak jalan menuju roma, banyak jalan menuju pengusaha, banyak jalan menjadi orang kaya, dan banyak jalan menuju kesuksesan. Persoalannya, tinggal kita (civitas akademika dan masyarakat) mau merengkuhnya atau tidak. Semoga ke depan, kaum cerdas pandai mampu menjadi pioner untuk menjadi pemegang saham 10% yang menguasai modal 90% keuangan dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

*Muhammad Farabi, Penulis adalah dosen Program studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Pacitan.


Share

You may also like...